Sosialisasi Pengembangan Demplot Penanggulangan Hama Tikus Melalui Predator Alami di Kecamatan Karang Agung Ilir

Sosialiasi pengembangan demplot penanggulangan hama tikus melalui predator alami di Kecamatan Karang Agung Ilir dilaksanakan pada tanggal  26 September 2019 bertempat di kantor kecamatan Karang Agung Ilir, kegiatan sosialisasi ini dilakukan sebagai bagian dari rencana aksi di area model 3 untuk membantu para petani mengatasi persoalan hama tikus. Selama ini penanggulangan hama tikus sudah dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dengan pemasangan pagar fiber diseliling area persawahan, tetapi cara ini dirasa kurang efektif pertama karena lahan pertanian cukup luas dan biaya pemasangan fiber cukup mahal. Menjawab persoalan tersebut Yayasan Penabulu dan sesuai kesepakatan forum merencanakan pengembangan demplot penanggulangan hama tikus melalui predator alami yaitu tyto alba yaitu sejenin burung hantu.

Tujuan sosialisasi ini adalah 1) Mengenalkan pengendalian hama tikus secara terpadu dengan menggunakan burung serak jawa (tyto alba) sebagai predator alami,  2) Mendorong skema kolaboratif pengendalian hama tikus menggunakan predator alami

Burung  hantu  merupakan  musuh  alami yang dapat memberikan prospek yang baik dalam mengendalikan tikus. Pemanfaatan burung hantu adalah cara pengendalian tikus yang ramah lingkungan, karena dengan memanfaatkan burung hantu, lingkungan tidak akan tercemar oleh racun ataupun zat polutan lainnya. Burung hantu aktif pada malam hari (nocturnal), tidak bersifat migratory, dapat dikembangkan di areal persawahan, dapat bersarang pada kandang buatan (gupon) dan umumnya sebagai binatang penetap 1,6 – 5,6 km sekitar sarang.

Kegiatan ini dihadiri oleh perwakila kecamatan, Karang Agung Ilir, perwakilan masayarakat dari desa Tabala Jaya dan Sumber Rezeki, dan mengundang pakar tyto alba dari Yogyakarta yaitu bapak Lim sin Wen, dalam paparannya bapak Lim menyatakan bahwa tytp alba ini sangat efektif untuk menjadi predator tikus .

Sebelum pemasangan demplot dilakukan akan dilaksanakan terlebih dahulu assessment di dua desa yaitu desa Tabala Jaya dan desa Sumber Rezeki dan pembuatan kesepakatan dengan kelompok tani dimana demplot akan dipasang. Kegiatan assement akan dilaksanakan setelah kegiatan sosialisasi dengan melibatkan masyarakat, assessment dilakukan dengan metode pengamatan pada siang dan malam hari.