Diskusi Terbatas Pemetaan Peluang dan Akses Pendanaan Hijau untuk Pengelolaan Berkelanjutan Lanskap Sembilang Dangku

Kegiatan diskusi terbatas “ Pemataan Peluang dan Akses Pendanaan Hijau untuk Pengelolaan Lanskap Sembilan Dangku” dilaksanakan pada tanggal 18 November 2019 bertempat di hotel Aryaduta Palembang. Dalam acara ini menghadirkan empat orang narasumber yang memberikan paparan tentang peluang serta akses-akses pendanaan hijau, kempat narasumber tersebut adalah 1)Ibu Titaningtyas dari Global  Green  Growth  Institute – GCF Redlines Program  2) Bapak Prof. Dr.Ir  Y Purwanto Direktur Eksekutif Komite Nasional Program MAB, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 3) Roy Salam, Direktur Indonesia Budget Center (IBC) 4) Rabin Ibnu Zainal, Direktur Pilar Nusantara (PINUS) . Tujuan dilaksanakannya diskusi terbatas “ Pemataan Peluang dan Akses Pendanaan Hijau untuk Pengelolaan Lanskap Sembilan Dangku” adalah 1). Mendiseminasikan sumber-sumber pendanaan yang potensial dalam hal mekanisme pengajuan, persyaratan, dan aksesibilitasnya untuk mendukung kemitraan pengelolaan lanskap KELOLA Sendang. 2). Memetakan rencana aksi bersama untuk menggunakan skema pembiayaan yang tersedia dalam rangka mendukung Masterplan Lanskap Kelola Sendang.

Kegiatan dihadiri oleh 32  orang terdiri dari perwakilan pemerintan daerah Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Musi Banyuasin, Eko Agus Sugianto, Staf Khusus Gubernur Sumsel Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif, Perwakilan OPD  Provinsi Sumatera Selatan dan para pihak yang terlibat dalam program pengelolaan lanskap Kelola Sendang.

Acara dibuka oleh Ketua PSU/PIU Kelola Sendang Ibu Regina kemudian dilanjutkan dengan paparan dari masing-masing narasumber yaitu :

  1. Ibu Titaningtyas, Indonesia Senior Asosociate, Green Finance, Global Green Growth Institute – GCF Redlines Program.(paparan terlampir mengenai Potensi Pendanaan melalui Green Climate Fund) Sekretariat NDA-GCF Indonesia BKF – Kementerian Keuangan.
  2. Dr. Ir. Y. Purwanto, Direktur Eksekutif Komite Nasional Program MAB, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. (paparan terlampir mengenai Pengelolaan Cagar Biosfer Indonesia: Cagar Biosfer Berbak Sembilang)
  3. Bapak Roy Salam selaku Direktur Indonesia Budget Center. (paparan terlampir mengenai Pengenalan Skema Insentif Fsikal Berbasis Ekologi di Indonesia : TAKE, TAPE dan TANE)
  4. Bapak Rabin Ibnu Zainal selaku Direktur Pilar Nusantara. (paparan terlampir mengenai Optimalisasi Bantuan Keuangan Provinsi Sumsel ke Kabupaten/Kota)

Hasil dari pertemuan ini adalah 1) TAKE TAPE dan TANE  dapat menjadi formulasi pendanaan parapihak dengan  indikator-indikator lingkungan hidup, untuk  Kabupaten Musi Banyuasin dan Banyuasin mempunyai potensi untuk menerapkan TAPE karena telah  memiliki Pokja Pembangunan Hijau yang anggotanya dari lintas OPD. 2) Pemerinta Provinsi Sumatera Selatan juga memiliki potensi untuk menggajukan proposal pendanaan dengan skema scaling up karena sudah mempunya modal dari pelaksanaan program Kelola Sendang. 3) Masterplan Kelola Sendang dapat disinkronkan dengan cagar Biosfer