Rona Kawasan AM 1

Cakupan wilayah pada area model ini memperlihatkan bentang kawasan berhutan mulai dari sebelah barat yang merupakan area konsesi PT Restorasi Ekosistem Indonesia (PT REKI/Hutan Harapan). Bagian utara Hutan Harapan seluas 46.385 Ha membujur di wilayah Provinsi Jambi, disambung dengan luasan 52.170 Ha pada area model di bawah naungan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Unit IV Meranti. KPHP Meranti memiliki luasan 244.162 Ha, yang terdiri dari 134.596 Ha luasan hutan produksi, 97.587 Ha hutan produksi terbatas dan 20.081 Ha hutan lindung. Dalam kerangka Perhutanan Sosial, di wilayah KPHP Meranti telah terbangun dua Hutan Desa, di Desa Lubuk Bintialo seluas 4.992 Ha dengan skema Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dan di Desa Pangkalan Bulian seluas 1.500 Ha dengan skema Kemitraan antara KPH dan Gapoktan. KPHP Meranti berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Dangku seluas 47.996,45 Ha di sebelah timur. Area model ini secara administratif terletak di 7 kecamatan di Kabupaten Musi Banyuasin, yaitu: Kecamatan Babat Supat, Babat Toman, Batanghari Leko, Bayung Lencir, Lais, Sanga Desa dan Tungkal Jaya.

Sebaran kawasan berhutan di area model ini dan sekitarnya sekaligus menunjukkan fragmentasi

habitat dan keterancaman populasi mamalia besar seperti harimau sumatera, gajah sumatera, beruang madu dan tapir. Kawasan restorasi ekosistem PT REKI dan kawasan konservasi SM Dangku sama-sama menghadapi masalah pembalakan liar, perambahan kawasan, konflik pengelolaan kawasan dan juga konflik manusia dengan satwa liar. Keberadaan KPHP Meranti, yang sebagian besar didominasi oleh kawasan hutan produksi, di antara kedua kawasan tersebut memberikan peluang dan tantangan tersendiri dalam mendorong pihak swasta pemegang ijin konsesi untuk dapat berperan dan terlibat aktif dalam pengembangan koridor konservasi satwa, pelestarian kawasan ekosistem esensial dan juga dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan.

Peta Area Model 1: Kawasan Hutan Dangku Meranti

KPHP Meranti berada dalam batas administrasi Kecamatan Batanghari Leko dan Kecamatan Bayung Lencir. Berdasarkan Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang (RPHJP) KPHP Meranti periode 2015‐2024 disebutkan luasan areal yang telah diberikan ijin pengelolaan adalah 208.521 Ha, sedangkan areal yang tidak/belum dibebani izin pengelolaannya adalah wilayah tertentu seluas 35.642 Ha. Ekosistem alami KPHP Meranti didominasi oleh hutan lahan kering dimana akasia, ekaliptus, jabon, sungkai, parkat, menggiris, medang, terap, pulai, putat, merawan, bernai, petanang, petaling, kelapung, meranti, bulian, kelat, kempas, pasang adalah beberapa jenis‐jenis penyusun hutan yang ada. Satwa yang hidup di dalam area KPHP Meranti antara lain: harimau sumatera (Panthera Tigris Sumatrae), ungko (Hylobates Aglilis), beruk (Macaca Namestrina),beruang madu (Helarctus Malayanus), rusa sambar (Cervus unicolor), kancil (Tragulus Kanchil), elang putih (Haliaeetus leucogaster), enggang (Buceros sp.), ayam hutan (Gallus sp.), raja udang (Alcedo sp.) dan ular kobra (Naja sp.).

SM Dangku adalah kawasan konservasi yang secara geografis terletak pada posisi 103°38’‐104°4’ Bujur Timur dan 2°04’‐2°30’ Lintang Selatan. SM Dangku ditetapkan sebagai suaka margasatwa berdasarkan SK 866/Menhut‐II/2014 tanggal 29 September 2014 jo. SK 454/Menlhk/Setjen/PLA.2/6/2016 tanggal 17 Juni 2016 denganluas 47.996,45 Ha. SM Dangku memiliki tipe ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah dengan jenis flora yang didominasi Famili Dipterocarpaceae antara lain meranti (Shorea spp.), pulai (Alstonia spp.), jelutung (Dyera spp.), durian (Durio sp.) dan terentang. Selain itu terdapat flora jenis‐jenis lainnya seperti manggaris (Kompasea sp.), tembesu (Fagrarea fagrans), merbau (Instia binua), medang (Litsea sp.), merawan (Hopea mangarawan), balam, dan berbagai jenis tumbuhan bawah seperti rotan (Calamus sp.), resak, pandan, dan semak belukar.

Peta lokasi Perusahaan di Area Model 1

Aksi kemitraan pengelolaan lanskap berkelanjutan pada kawasan hutan Dangku‐Meranti ini diharapkan mampu menciptakan model pencapaian tujuan, penetapan prioritas dan pola pengelolaan hutan yang inklusif dan memperhatikan keseimbangan aspek‐aspek produksi, konservasi, sosial dan ekonomi serta juga budaya.

“Isu Strategis”

Sebaran kawasan berhutan dalam bentang alam di area model ini sekaligus menunjukkan fragmentasi habitat dan keterancaman populasi mamalia besar seperti harimau sumatera, gajah sumatera, beruang madu dan tapir.

Kawasan restorasi ekosistem PT REKI dan kawasan konservasi SM Dangku Sama-sama menghadapi masalah pembalakan liar, perambahan kawasan, konflik pengelolaan kawasan dan juga konflik manusia dengan satwa liar.

Keberadaan KPHP Meranti, yang sebagian besar didominasi oleh kawasan hutan produksi, di antara kedua kawasan tersebut sesungguhnya memberikan peluang dan tantangan tersendiri bagi KPHP Meranti dalam mendorong pihak swasta pemegang ijin konsesi untuk dapat berperan dan terlibat aktif dalam pengembangan koridor konservasi satwa, pelestarian kawasan ekosistem esensial dan juga dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan.

Masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan ini masih menghadapi permasalahan mendasar antara lain: tingkat kemiskinan yang masih tinggi, rendahnya tingkat pendidikan, minimnya dan rendahnya kualitas layanan dasar, dan akses masyarakat atas sumber daya dan lahan yang minim.

Tata ruang pemegang izin pada KPHP Meranti pasti akan membagi wilayah dan fungsi pengelolaan areal konsesi menjadi ruang tanaman pokok, ruang tanaman kehidupan dan ruang areal konservasi/perlindungan. Hingga saat ini pola penataan ruang ini belum diselenggarakan secara memadai, dan diperparah dengan beberapa kasus konflik pemanfaatan lahan antara masyarakat dengan pihak swasta dan pemerintah.

Kemitraan AM 1

Agenda Forum Dangku-Meranti yang dilakukan.