Rona Kawasan AM 2

Area model ini mewakili tipologi ekosistem gambut pada Lanskap Sembilang‐Dangku. Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG)2 Sungai Merang – Sungai Ngirawan dibatasi oleh Sungai Merang dan Sungai Kepayang (Peta KHG 2017). Wilayah KHG ini termasuk dalam area Hutan Rawa Gambut Merang‐Kepayang yang sebelumnya dikoordinasikan di bawah Tim Koordinasi Pengelolaan Konservasi (SK Bupati Musi Banyuasin No 046/2004).

Peta Area Model 2: KHG S. Merang – S. Ngirawan

Kedua sungai utama yang mengalir di kawasan Hutan Rawa Gambut Merang-Kepayang, yaitu Sungai Merang dan Sungai Kepayang merupakan anak Sungai Lalan yang bermuara di Semenanjung Banyuasin. Sejumlah sungai/anak sungai di pesisir TN Sembilang berhulu pada kawasan hutan rawa gambut ini. Wetlands International Indonesia Programme (WI-IP) dan South Sumatra Forest Fire Management Project (SSFFMP-EU) telah melakukan kajian penyebaran gambut di dalam kawasan ini pada tahun 2004-2006. Hasil yang diperoleh dari studi tersebut menunjukkan bahwa ketebalan lapisan gambut di kawasan ini bervariasi antara kurang dari 1 meter hingga 7 meter. Dari keseluruhan luas 271.000 Ha, sekitar 210.000 Ha diantaranya adalah lahan gambut, dimana setidaknya terdapat 2 kubah gambut utama, yaitu di antara Sungai Merang dan Sungai Kepayang, serta di antara Sungai Kepayang dan hulu-hulu sungai yang bermuara ke TN Sembilang.

KHG S. Merang – S. Ngirawan ditetapkan melalui SK Menteri LHK Nomor SK.130/Menlhk/Setjen/PKL.0/2/2017 tentang Penetapan Peta Fungsi Ekosistem Gambut Nasional. Luas KHG S. Merang – S. Ngirawan adalah 82.021 Ha dengan fungsi lindung seluas 47.480 Ha dan fungsi budidaya seluas 34.541 Ha. Seluas 74.474 Ha (90,8%) dari KHG S. Merang – S. Ngirawan terletak di dalam kawasan kelola KPHP Lalan Mendis (lihat kotak keterangan mengenai KPHP Lalan Mendis), dan sisanya seluas 7.546 Ha (8,2%) terletak di Areal Penggunaan Lain (APL). Sebagian besar wilayah KHG S. Merang – S. Ngirawan berada di Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin dan sebagian kecil di sebelah timur laut berada di Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin.

KPHP Lalan Mendis yang mencakup wilayah pada dua kabupaten, terbagi menjadi dua kesatuan pengelolaan hutan produksi: KPHP Lalan Mangsang Mendis dan KPHP Lalan Sembilang. KPHP Lalan Mangsang Mendis sendiri terdiri dari 2 kelompok hutan yaitu Hutan Produksi Lalan dan Hutan Produksi Mangsang Mendis. Wilayah kerja KPHP Lalan Mangsang Mendis berada di Kecamatan Bayung Lencir (18 desa) dan Kecamatan Lalan (8 desa), Kabupaten Musi Banyuasin. Sedangkan wilayah kerja\ KPHP Lalan Sembilang berada pada Kabupaten Banyuasin, tepatnya di Kecamatan Banyuasin II (10 desa). Luas wilayah kerja KPHP Lalan Mangsang Mendis seluas 265.953 Ha (SK.76/Menhut-II/2010) dan KPHP Lalan Sembilang seluas 60.999,33 Ha (SK 866/Menhut-II/2014 dan SK.3531/MenLHK-KPHP/HPL-0/6/2017).

Meskipun masuk dalam 9 KHG prioritas restorasi BRG di Provinsi Sumatera Selatan, terutama karena parahnya tingkat kerusakan ekosistem akibat kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 yang lalu, wilayah KHG S. Merang – S. Ngirawan sesungguhnya merupakan kawasan dengan fungsi produksi, baik untuk wilayah yang berada di bawah pengelolaan KPHP Lalan Mendis maupun wilayah APL yang diperuntukkan bagi areal perkebunan. Diawali dengan beroperasinya perusahaan pemegang ijin HPH sampai dengan tahun 2000‐an, kini wilayah KHG S. Merang – S. Ngirawan tersebut telah terbagi dan dibebani dengan ijin‐ijin Hutan Tanaman Industri dan pertambangan pada wilayah di bawah naungan KPHP Lalan‐Mendis, juga terdapat sebagian wilayah Hutan Desa Muara Merang (dengan total luasan 7.250 Ha) dan Hutan Desa Kepayang (dengan total luasan 5.170 Ha). Sedangkan pada kawasan KHG di wilayah APL beroperasi perusahaan kelapa sawit. Pada wilayah KHG ini dibawah koordinasi KPHP Lalan Mendis juga terdapat konsesi PT Global Alam Lestari (GAL) berdasakan SK Menhut No. SK.494/Menhut‐II/2013 perihal Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Penyerapan Karbon dan/atau Penyimpanan Karbon pada Hutan Produksi seluas 22.280 Ha. Areal konsesi PT GAL sebagian besar merupakan wilayah kubah gambut dari KHG S. Merang – S. Ngirawan.

Pada areal KHG S. Merang – S. Ngirawan juga terdapat Hutan Desa Muara Merang (dengan total luasan 7.250 Ha) dan Hutan Desa Kepayang (dengan total luasan 5.170 Ha).

SK Pencadangan Areal Kerja (PAK) Hutan Desa Muara Merang terbit pada 21 Januari 2010. Menteri Kehutanan mengeluarkan SK Penetapan Areal Kerja (PAK) Hutan Desa Muara Merang dengan No. 54/2010 menjadikan hutan desa ini menjadi hutan desa pertama di Provinsi Sumatera Selatan, dengan luas 7.250 Ha. HD Muara Merang terletak di sisi utara Desa Muara Merang, Kecamatan Bayung Lencir. Walaupun rencana pengelolaan hutan produksi berbasis masyarakat pada HD Muara Merang yang seluruh wilayahnya terletak pada lahan gambut telah terbangun bahkan sejak tahun 2006, namun kondisi HD Muara Merang kini telah rusak parah akibat pembalakan liar, kebakaran hutan dan lahan, serta perambahan hutan, terutama konversi hutan menjadi lahan pemukiman dan malahan menjadi tempat tinggal para perambah.

Pada wilayah KHG ini dibawah koordinasi KPHP Lalan Mendis juga terdapat konsesi PT Global Alam Lestari (GAL) berdasarkan SK Menhut No. SK.494/Menhut‐II/2013 perihal Pemberian Ijin Usaha Pemanfaatan Penyerapan Karbon dan/atau Penyimpanan Karbon (IUP RAP Karbon dan/atau PAN Karbon) pada HP seluas 22.280 Ha yang berada pada Kelompok Hutan Sungai Lalan untuk jangka waktu 25 tahun hingga tahun 2037. Areal konsesi PT GAL sebagian besar merupakan wilayah kubah gambut dari KHG S. Merang – S. Ngirawan. Sedangkan pada kawasan KHG S. Merang – S. Ngirawan yang berada di wilayah APL, beroperasi perusahaan kelapa sawit PT Mentari Subur Abadi (PT Indofood Group) dengan total luasan konsesi sebesar 55.200 Ha.

Peta Lokasi Peruahaan di Area Model 2

Area model KHG S. Merang – S. Ngirawan ini memiliki karakteristik khusus, di mana seluruh wilayahnya terbagi habis dalam ijin usaha, sehingga aksi kemitraan pengelolaan lanskap berkelanjutan yang menyeimbangkan aspek produksi, konservasi/restorasi. sosial dan ekonomi penduduk lokal serta aspek pemajuan kebudayaan pada area model ini harus dibangun berpondasikan skema kemitraan antar perusahaan pemegang konsesi di bawah kepemimpinan kuat pemerintah daerah provinsi dan kabupaten.

“Isu Strategis”

KHG S. Merang – S. Ngirawan sebagai salah satu area model pada Lanskap Sembilang‐Dangku merupakan kawasan utama restorasi gambut BRG yang berada sepenuhnya di lahan konsesi perusahaan dan sebagian kecil di wilayah Hutan Desa. Dari 2,49 juta Ha wilayah prioritas kerja BRG, 1,4 juta Ha diantaranya terletak di wilayah konsesi. Tidak seperti pada wilayah lindung maupun APL/kawasan kelola masyarakat, BRG tidak dapat bekerja secara langsung pada lahan gambut prioritas restorasi yang berada di wilayah konsesi, BRG hanya dapat melakukan intervensi melalui supervisi dan asistensi kepada perusahaan dalam upaya merestorasi gambut di wilayah operasi masing‐masing. Upaya restorasi gambut pada wilayah konsesi akan sangat bersandar pada inisiatif perusahaan itu sendiri.

Pada sisi yang lain, dalam menjalankan usahanya dalam satu kesatuan sistem hidrologis gambut ini, perusahaan akan membutuhkan sistem pengelolaan air yang mampu menjamin tingkat produksi yang diharapkan, sistem pengelolaan air yang jika dikelola dengan baik juga akan menghindarkan perusahaan dari resiko besar kebakaran hutan dan lahan. Integrasi sistem pengelolaan air perlu dilakukan pada skala satu kesatuan hidrologis gambut, tidak dapat dilakukan sendiri‐sendiri, begitu pula pengelolaan kewajiban lingkungan lainnya seperti penetapan HCV ataupun perlindungan terhadap sempadan sungai.

Pada aspek sosial kemasyarakatan, terdapat permasalahan khusus area model ini, khususnya di Desa Muara Merang dan Desa Kepayang yang terdiri dari Dusun 1 Kepayang dan Dusun 2 Kepayang. Di seberang Sungai Kepayang terdapat pemukiman, berada di wilayah administrasi Desa Muara Merang, namun lebih dikenal sebagai Dusun 3 Kepayang karena aksesnya yang lebih mudah. Selain 3 dusun tersebut, di Desa Kepayang terdapat pemukiman di areal perusahaan (PT Mentari Subur Abadi dan PT Wahana Lestari Makmur Sukses). Desa Muara Merang terdiri dari 3 dusun resmi dan beberapa pemukiman tidak resmi. Dusun resmi tersebut adalah Dusun Bakung, Dusun Pemekaran dan Dusun Tebung Harapan. Sedangkan pemukiman tidak resmi adalah Bina Desa, Buring, dan pemukiman di dalam areal perusahaan PT Pinang Wit Mas. Masyarakat di kedua desa ini dulunya adalah para pencari ikan, mengolahnya dengan sederhana dan memasarkannya hingga ke Jambi. Mencari kayu dan rotan telah menjadi tradisi lama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga atau membuka ladang. Namun aktivitas ekonomi tersebut berubah drastis sejak adanya pengusahaan hutan. Kelangkaan jenis mata pencaharian dan minimnya akses pemanfaatan sumber daya alam oleh masyarakat di area model ini kemungkinan besar menjadi sebab tingginya tingkat kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan selain memang masih rendahnya mutu pelayanan dasar oleh pemerintah daerah setempat.

Kemitraan AM 2

Agenda Forum KHG yang dilakukan.