Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan tengah merintis pendekatan baru dalam mengelola sumberdaya lahan. Pendekatan ini menempatkan semua aktor pemerintah, swasta dan juga masyarakat sipil untuk bersama-sama mengembangkan kemitraan dalam pengelolaan suatu bentang lahan. Diharapkan dengan pendekatan ini akan terwujud sinergi antar berbagai kepentingan terhadap sumberdaya lahan dan akan mewujudkan lanskap yang berkelanjutan. Langkah ini disebut dengan Kemitraan Pengelolaan Lanskap. Untuk mengimplementasikan pendekatan lanskap ini Pemerintah Sumatera Selatan bekerjasama dengan Konsorsium KELOLA Sendang telah menetapkan sebuah area kemitraan pengelolaan lanskap yang membentang dari Taman Nasional Sembilang hingga Suaka Margasatwa Dangku, yang kemudian disebut dengan Lanskap Sembilang Dangku.

Posisi Lanskap Sembilang Dangku Dalam Provinsi Sumatera Selatan

Lanskap Sembilang Dangku berada di wilayah Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin yang mencakup 19 kecamatan dan 223 desa dengan luas area lanskap sekitar 1,6 juta hektar. Penduduk di dalam lanskap kelola sendang terdapat 816.748 jiwa (BPS, 2017).

No Kecamatan Kabupaten Jumlah Penduduk

(Jiwa)

1 Babat Supat Musi Banyuasin        36.400
2 Babat Toman Musi Banyuasin        32.090
3 Batanghari Leko Musi Banyuasin        23.400
4 Bayung Lencir Musi Banyuasin        82.620
5 Keluang Musi Banyuasin        30.680
6 Lais Musi Banyuasin        56.760
7 Lalan Musi Banyuasin        41.080
8 Lawang Wetan Musi Banyuasin        25.630
9 Sanga Desa Musi Banyuasin        33.260
10 Sekayu Musi Banyuasin        84.270
11 Sungai Lilin Musi Banyuasin        59.250
12 Tungkal Jaya Musi Banyuasin        44.160
13 Banyuasin II Banyuasin        44.030
14 Betung Banyuasin        56.237
15 Pulau Rimau Banyuasin        42.165
16 Rantau Bayur Banyuasin        42.023
17 Suak Tapeh Banyuasin        18.034
18 Tanjung Lago Banyuasin        39.132
19 Tungkal Ilir Banyuasin        25.527
Jumlah Penduduk 816.748

Peruntukan lahan di lanskap Sembilang Dangku didominasi oleh kawasan hutan yang secara keseluruhan mengambil porsi 65,02 % dari total luasan lahan, yang terdiri dari 16,40% kawasan konservasi, 1,40% kawasan lindung, dan 47,22% merupakan kawasan hutan dengan fungsi produksi. Areal di luar kawasan hutan pada lanskap ini didominasi oleh areal perkebunan, yaitu 20,26% dari total luasan lanskap. Hal tersebut secara sepintas menggambarkan bahwa lanskap Sembilang Dangku didominasi oleh area dengan fungsi produksi, baik berupa perkebunan maupun Hutan Tanaman Industri (HTI) yang meliputi 67,48% dari total area lanskap.

Grafik Rasio Penggunaan Lahan di Lanskap Sembilang Dangku

Disamping produksi berbasis lahan dari sektor kehutanan dan pertambangan, di dalam Lanskap Kelola Sendang sektor pertambangan juga memiliki peran yang cukup signifikan. Di lanskap ini, khususnya di  Kabupaten Musi Banyuasin, sektor pertambangan dan penggalian menyumbang 57,6% PDRB kabupaten tersebut (BPS Kabupaten Musi Banyuasin 2012-2016). Sektor pertambangan didominasi oleh pertambangan minyak bumi dan batubara. Tercatat sekitar 24 perusahaan yang bergerak dalam sektor tambang yang beropersi didalam kawasan lanskap Sembilang Dangku.

Lanskap Sembilang Dangku memiliki nilai penting konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. Di dalam lanskap ini terdapat berbagai tipe ekosistem yang kaya akan keanekaragaman hayati. Ekosistem tersebut adalah hutan mangrove, hutan pantai, hutan dataran rendah, lahan gambut dan ekosistem lain yang menjadi habitat bagi hidupan liar baik flora maupun fauna. Nilai penting Lanskap Sembilang Dangku bagi konservasi terbukti dengan keberadaan 3 kawasan konservasi yaitu Taman Nasional Sembilang, Suaka Margasatwa Dangku, dan Suaka Margasatwa Bentayan yang secara total mengambil porsi 16,40% dari total luas areal.